syatthohMembaca resep makanan India yang diposting istriku teh manis, aku jadi ingat cerita lucu waktu kerja pas musim haji tahun 2007. Dhal, judulnya ceritanya persis sama dengan nama resep istriku tadi.

Saat itu aku bertugas menjadi waiter melayani jemaah di sebuah restoran milik perusahaan asal Indonesia di Airport Jeddah, KSA. Hampir semua karyawannya orang Indonesia yang memang didatangkan khusus untuk proyek itu. Dengan kemampuan berbahasa asing cuma Inggris dan sedikit Arab, aku mencoba untuk melayani jemaah yang berasal dari berbagai macam negara sebaik-baiknya. Bila mereka bisa berbahasa Inggris apalagi Melayu, legalah hati. Kalau mereka berbahasa Arabpun, aku masih bisa menebak dengan baik makanan atau minuman apa yang mereka minta. Kesulitan baru terjadi ketika jemaah yang datang berbicara di luar ketiga bahasa di atas.

Kejadian lucu pernah terjadi. Salah satunya adalah ketika serombongan jemaah India (kebanyakan sudah berumur) datang “menyerbu” restoran kita. Waktu itu aku bertugas bersama 2 orang staff di counter depan. Seorang jemaah maju, dan berteriak dhaaaalllll…… Wah apa nih??? Sungguh makanan itu tidak ada dalam daftar menu kami. Kami hanya menyediakan chicken broast dan nasi ikan/ayam goreng. Aku tanya kemereka, what’s dhall, man haza??? Mereka teriak lagi dhaaaalll…..Kayaknya mereka tidak bisa berbahasa Inggris ataupun Arab. Salah seorang staffku teriak… Nasi ayam tuh pakkk… Akhirnya aku ke dapur dan menyiapkan nasi ayam… Pas disuguhkan ke dia.. Jemaah India tadi mengembalikan makanan itu sambil teriak lagi, dhaaallll… dan menunjuk-nunjuk ke arah dapur yang saat itu sedang penuh dengan sayur rebusan. Sibuk mikirin artinya dhall…. serombongan jemaah haji asal Afrika datang sambil teriak minta chicken broast. Waduh, yang ini belum selesai, sudah ada order lagi.

Seorang staffku yang lain yang sedang sibuk menggoreng, berteriak. Pak, kayaknya dhal itu sayur… Lalu aku ke dapur menambahkan sayur ke dalam makanan itu. Namun setelah sampai ke depan jemaah tadi, dia hanya menghela napas panjang. Sambil tetap berkata (tapi sudah tidak berteriak lagi), dhallll…..

Akhirnya aku menyerah, sambil berkata dhall Nehi….. Abiiis, jemaah Afrikanya sudah jengkel merasa tidak dilayani. Walhasil, jemaah-jemaah India tadipun ngeloyor dan pergi ke restoran lain milik pengusaha Arab. Kami hanya bisa geleng-geleng kepala… Gara-gara dhall kita jadi sibuk. Mencoba untuk menebak, salah semua…

Terus terang, aku baru tahu bahwa Dhal itu ternyata artinya sup kacang setelah membaca posting teh manis. Pantas, jemaah haji India saat itu pesan itu. Mereka banyak yang sudah tua dan ompong. Tak sanggup makan goreng ayam. Makanya dhal…. (Air Putih)